Jadi Pengisi Suara, Butuh Keahlian Khusus Tapi Sangat Asyik

Pertengahan 2021 lalu saya punya harapan bisa mengasah teknik produksi suara tapi bukan tentang bernyanyi. Selama ini saya suka mendongeng bersama anak-anak, memainkan vokal dan intonasi suara lewat tutur cerita. Baik dengan anak-anak ketika masih aktif di komunitas, dan kini bersama  si bocah yang ada di rumah. Sejauh ini memang hanya itu kemampuan saya berkreasi dalam suara.

Tetapi, seiring waktu, saya makin ngebet ingin memperluas bidang produktivitas dunia suara, dan menjamah pengalamanan teknik suara.  Dulu, ketika teknologi visual belum terpublikasi secara merata, suara-suara dalam radio masih amat sangat merakyat. Saya masih ingat, senang dininabobokan oleh penyiar-penyiar radio favorit saat itu. Selalu tidak mau ketinggalan mendengarkan dongeng dan cerita rakyat. Beranjak setelah itu, masuk ke dunia telenovela, masa-masa di mana saya tahu istilah dubber, dan selalu penasaran suara-suara lokal siapa saja di belakang wajah-wajah bule itu. Sungguh, anak 80-90an pasti paham ini. Kini, memasuki era digital, yang ternyata makin membuktikan  bahwa jasa para pengisi dan pengalih suara selalu dibutuhkan dan akan terus berkembang. 

Kini, saya melihat ada banyak kawan yang makin produktif dengan podcast mereka, ada yang mengisi suara dengan aplikasi pengisi suara. Mereka terlihat asyik banget jadi pengisi suara. Sementara saya? merasa buta tuli tentang dunia kreasi suara.

Makanya, di 2022 ini saya menggelitik lagi naluri tahun lalu agar mau mencoba pengalaman ini. Bagaimana pun bakat  mengoceh sudah menjadi kebutuhan mendasar dunia digital saat ini. Tidak hanya untuk konten, tapi kemahiran ini logis dibutuhkan di bidang apa pun.

Voice Over dan Dubber

Belum terlalu lama bagi saya ketika tahu istilah voice over. Voice over berbeda dengan dubbing. Voice over memproduksi suara untuk bernarasi dalam saluran informasi atau tutur cerita yang dimuat dalam produksi/tayangan/konten film, audio book, dokumenter, periklanan, media audio visual lain, atau pesan digital. Jadi, memang mencakup banyak hal. Sementara, dubbing atau alih suara bersifat mengalihkan bahasa atau menindih dari suara yang sudah ada. Baik voice over dan dubbing sama-sama membutuhkan keahlian khusus.

Keahlian khusus?
Dalam beberapa kali kelas literasi yang saya ikuti, ada bekal bagaimana teknik membaca. Membaca doang ada bekalnya? Ya, karena teknik membaca itu sangat berpengaruh dengan apa yang dibaca, tujuan, dan bagaimana intonasinya. Membaca puisi sangat berbeda dengan membaca berita, membaca dialog tidak sama dengan membaca pidato. Perbedaan ini menuntut keahlian. Perbedaan apa yang dibaca saja nyatanya masih mendasar, karena masih ada faktor kebutuhan dan intensitas. Bayangkan, menjadi dubber seekor anak anak kucing yang lucu dengan suara yang imut tidak bisa sama dengan suara kakek buaya yang buas. Dulu, saya mengira kalau mengisi suara ya sekadar isi suara, tapi setelah melihat bagaimana para pengisi suara bekerja, ternyata menuangkan suara saja tidak cukup, ada keahlian lain seperti : kemahiran dan kecepatan membaca, gerak tubuh, mimik, hingga paham emosi apa yang harus dimuat dalam suara. Hmm.

Seorang blogger yang juga voice over talent pernah menulis bahwa setidaknya tiga faktor internal yang harus dikuasai untuk menekuni bidang teknik olah suara ini, faktor ini meliputi kemampuan artikulasi, intonasi serta kemampuan memainkan volume suara.

Asyiknya Menjadi Pengisi Suara

Agar tidak terlalu merasa sepi ketika beraktivitas di dapur, ya masak, ya cuci, sesekali saya putar podcast Do You See What I See (DYSWIS).  Lucu ya, ‘agar tidak merasa sepi’ tapi yang didengarin malah DYSWIS. Asal tahu saja, DYSWIS ini podcast yang berisi pengalaman horor netizen. Tapi, saya merasa asyik mendengarkan suara para penuturnya, apalagi kalau mereka berhasil menceritakan dengan baik, intonasinya enak didengar. Ada banyak sekali cerita yang sangat umum, tetapi ketika berhasil dinarasikan dengan baik, hasilnya bisa istimewa.

Makin lama, saya juga senang mantengin para voice over talent, macam Bimo Kusumo, Leyla Aderina, Kristo Immanuel, Ihwan Zaid, dan favorit saya Tisa Julianti, pengisi suara telenovela Rosalinda. 


(dengerin suara mbak Tisa Julianti)

Tapi, semua ini masih sebatas mantengin belaka, hanya penikmat, belum bisa nyeduh ilmunya. Entah bagaimana, sepertinya selama pandemi ini, saya makin senang mendengarkan banyak suara-suara talent. Mendengarkan mereka ini asyik banget. 

(saya suka 'How to Become' nya Adiez Gilang)

Tidak hanya asyik untuk didengar, pengisi suara telah menjadi karir yang menjanjikan sepanjang waktu. Tayangan iklan sangat bisa sangat mempengaruhi audiens ketika dimuat narasi. Konten-konten digital secara pasti menambahkan semangat ketika para narator bersuara. Podcast pun makin banyak dan beragam kian harinya.

Ide apa pun yang kita punya untuk konten kita, lebih asyik dengan adanya narasi suara.

Masih ingat saat pandemi banyaknya produk susu beruang yang laris? Yang kemudian menjadi olah kreatif bagi seorang VO bernama Ihwan Zaid? Saya yakin pasti banyak yang tahu.

-Bisa-bisanya Rahul dan Anjali diganti Paul dan Astuti-

Nah, ngomongin Ihwan Zaid, tepat  di 29 Januari 2022, akan hadir di Balikpapan bersama Novie Burhan. Mereka adalah  VO senior (boleh nyebutnya gitu ya) yang kemerduan suaranya sudah bisa dipastikan. Keduanya hadir dalam rangkaian acara fullday workshop “Asyiknya Jadi Pengisi Suara” yang bertindak sebagai pemateri sekaligus mentor.

Bagaimana ya keseruannya ? Wah, belum tahu. Tapi, kalian juga bisa ikut acaranya untuk tahu keseruannya. Silakan cek info di IG @cafepro.id dan @vtclass.id

Nah, saya juga mau coba berlatih jadi VO atau mungkin dubber. Biar bikin konten makin semangat dan asyik.

 

1 comment:

  1. Aku tuh juga suka bacain cerita buat anak2 mba. Dan mereka paling suka kalo aku niruin macam2 ekspresi dan suara dari tokoh2 ceritanya. Dari situ aku jadi kebayang gimana rasanya jadi dubber atau VO yaaa 😁.

    Langsung kebayang mereka amat menjaga kesehatan pita suara dan tenggorokan pasti. Krn jujur nya, pernah bacain banyak cerita ke anak2, aku ngerasa tenggorokan agak sakit setelahnya. Itu padahal palingan cuma 1 jam doang 🀣🀣🀣. Gimana ceritanya berjam2 kan...

    Temenku ada yg jadi VO di salah satu tv. Aku sering tuh dengerin suaranya atau di medsos dia sering bikin feed yang pake aplikasi suara itu, duuuh dengernya enaak banget. Giliran aku yg coba, belepotan blaaas wkwkwkwkw

    ReplyDelete

Hai, bila tidak memiliki link blog, bisa menggunakan link media sosial untuk berkomentar. Terima kasih.