Lebaran Identik dengan Opor ?


Setiap kali Idulfitri, masakan opor selalu disebut-sebut sebagai menu lebaran pendamping ketupat. Sementara dari pengalaman saya, butuh beberapa tahun opor hadir sebagai menu masakan lebaran Idulfitri. Mumpung masih Syawal, saya ingin mengeluarkan memori menu lebaran dari tahun ke tahun yang pernah saya rasakan.

Dimulai dari masa kecil.

MENU LEBARAN KELUARGA BESAR

Masa kecil saya berkisar pada tahun 80-an. Sejak kecil saya hanya tahu menu lebaran itu dua macam : soto Banjar dan martabak kari a.k.a roti maryam/ roti canai. Karena Nenek di sebelah sana suku Banjar dan Nenek satunya berdarah india. Ketupat yang kami anyam beberapa hari sebelumnya akan dimasak oleh Nenek dengan panci yang sangat besar. Nantinya, ketupat akan menjadi pendamping soto Banjar yang kami buat. Sementara makan martabak kari atau roti maryam memang tidak membutuhkan ketupat. Pokoknya saja roti, kecuali karinya bisalah dimakan dengan ketupat. Kari untuk martabak ini berwarna merah dengan racikan banyak bumbu, santan dan daun kari. Sudah pakemnya demikian.
Saat itu, cuma dua macam menu ini saja yang saya kenal sebagai menu lebaran.
roti maryam/roti canai

Keluarga besar pun demikian, kalau tidak salah satu ya salah dua menu masakan ini yang muncul di Hari Raya Idulfitri. Jadi, meski sudah makan soto Banjar di rumah, maka saya akan makan lagi dan lagi di rumah keluarga. Bagaimana pun rasanya pasti beda. Lagipula, saya tidak merasa bosan makan soto Banjar dan martabak kari.
soto banjar
soto banjar - sumber : wikipedia

Itu kalau di keluarga besar kami. Bagaimana dengan tetangga?
Waktu kecil, saya tidak tahu tetangga masak apa untuk lebaran. Malah, saya pikir semua tetangga sama saja masakan lebarannya seperti menu masakan kami. Padahal, saya sadar lho para tetangga ini beda-beda sukunya. Masa’ iya menunya soto Banjar semua?

Tetapi, saya yang masih kecil tidak tahu apa menu masakan lebaran para tetangga. Seingat saya tidak ada tetangga yang open house untuk kami. Istilah open house pun saat itu belum ada. Rumah-rumah pada open kok, tapi bukan menu masakan besar yang disajikan untuk tamu umum, hanya kue-kue lebaran. Kami pun demikian, hanya menyajikan menu besar untuk keluarga.

Setelah bertambah usia, bertambah pula cerita dari kawan-kawan sekitar. Baru saya tahu kalau menu-menu lebaran tiap rumah bisa berbeda. Tapi, semua ini hanya sekadar informasi biasa saja. Sekali lagi, pada tahun itu kami masih kecil, rumpian kami masih seputar sekolah, tontonan kartun, dan permainan anak. Belum serius membahas kuliner dan gaya hidup.

MENU OPOR DI TELEVISI

Pernah saya tanya ke ibu:
Opor itu bentuknya gimana Bu?
Kok bisa ya Bu, ada orang makan ketupat pakai opor?
Opor itu yang warnanya putih, kuning apa yang oren ya?

Beneran, dulu saya nggak tahu bentukan opor itu bagaimana. Bukan berarti nggak pernah makan opor. Tetapi, karena amat sangat jarang, dan tidak menjadi menu besar lebaran di keluarga kami, membuat memori saya sering meraba-raba, menu opor itu bagaimana. Sesuai keadaan pada masa itu, menu ayam sudah terasa mewah. Belum ada tuh kentuki-kentukian beredar di pinggir jalan, juga belum ada bumbu-bumbu praktis opor dijual, jadi masakan ayam memang bukan masakan yang bisa setiap saat hadir di meja makan kami. Laaah, malah kayaknya dulu nggak punya meja makan apa ya.
opor
Pertanyaan tentang opor muncul akibat sering menonton televisi. Karena kalau di televisi, pasti menyebut opor sebagai menu lebaran. Makin sering, informasi saya pun bertambah tentang menu masakan Idulfitri orang-orang ada rendang, gulai, soto khas, ketupat sayur. Maksudnya, saya sudah mengenal masakan ini, tetapi baru tahu kalau masakan ini menjadi menu lebaran Idulfitri. Sementara menu lebaran keluarga kami masih mengadopsi dua jenis masakan itu, soto Banjar dan kari. 

MENU LEBARAN MAKIN BERVARIASI

Saya ingat ketika paman menikah dengan orang luar Kalimantan dan akhirnya kembali tinggal di Balikpapan. Untuk pertama kalinya, mereka menyajikan menu khas lebaran keluarga istri paman, yakni : nasi kuning. Awalnya keluarga besar agak kaget, kok nasi kuning? Maksudnya, di tempat kami ini, nasi kuning ini adalah jenis kuliner yang tiap pagi bisa disantap. Banyak tersedia di mana pun. Lalu, ini kok jadi menu lebaran? Maklum, saat itu belum terbiasa. Padahal, sajian nasi kuning tante ini beda lho. Jenis nasinya menyesuaikan beras dari daerahnya, rasa dan kondimennya juga beda, plus penyajian lebih khas sesuai tradisi, tidak terlalu umum sesuai pasar. Tambahan sambal goreng kentang, masakan ayam menambah kelegitan dan keunikan menu lebaran kami. Kebingungan itu memang awalnya saja, setelah itu kami terbiasa menyantap nasi kuning saat lebaran.
nasi kuning
sumber : wikipedia

Faktanya, penghuni Kota Balikpapan khususnya dan KalTim lebih luas itu sangat beragam suku dan budaya. Namun, saat masih kecil, perbendaharaan kuliner di kota saya saat itu masih minim.
Ketika saya kuliah di luar kota, setiap setelah libur lebaran, para penghuni kos yang terdiri dari berbagai suku datang membawa menu masakan lebaran keluarga mereka yang beragam. Saya makin terbiasa menyantap berbagai variasi kuliner khas yang berbeda saat lebaran tiba.
Cerita ini terkait lebaran, karena kalau mau menyantap masakan daerah mana pun, tentu bisa kapan pun.

Seiring waktu, makin banyak tetangga yang menjamu tamu dengan menu masakan besar mereka. Kami pun demikian, selagi bisa mengajak tamu makan, tidak hanya keluarga, maka hayuk makan. Nah, suatu kali lebaran, kami makan bakso di rumah tetangga. Waktu itu jarang banget ada yang menyediakan bakso di saat lebaran. Sepertinya, saat itu juga pertama kali kami menemukan rumah yang menyediakan bakso sebagai menu lebaran. Wajarlah, tetangga kami ini penjual bakso. Lebaran nge-bakso? Selagi bisa menyediakan bakso untuk tamunya mengapa tidak. Nah, setelah itu saya makin sering menemukan keluarga yang menyediakan menu bakso di saat lebaran Idulfitri, dan bukan hanya penjual bakso.

Kalian makan bakso saat lebaran?
bakso bihun
ngebakso di Idulfitri?
sumber : wikipedia

MENU LEBARAN SETELAH MENIKAH

Sampai juga di era 2000an. Ketika menikah, ternyata menu lebaran yang saya rasakan makin beragam. Mama mertua berdarah Palembang dan lama tinggal di Jakarta, sementara Papa mertua suku Jawa. Mereka tinggal di Jawa Timur. Nah, kira-kira apa menu lebaran di keluarga ini? Ya benar, ada pempek, tekwan, opor, soto Betawi, ketupat sayur dengan labu siam, rawon, sambal goreng kentang hati (biasanya diganti petai), dan masih ada lagi. Memang nggak semua menu numpuk di Hari Raya, gantian atuh tiap tahunnya ya. Bisa lunglai yang masak :)
pempek Palembang
sumber : wikipedia

Karena sudah beberapa kali berlebaran di rumah mertua, saya tambah familiar dengan menu-menu ini saat lebaran. Jadi, ketika kembali ke Balikpapan, menu lebaran yang saya buat tidak hanya menu yang berasal dari leluhur saya saja. Paling sering saya membuat ketupat sayur dan teman-temannya atau soto betawi.

MENU LEBARAN TAHUN 2022

Dari tahun 80an, akhirnya tiba juga di menu lebaran tahun ini.
Lebaran tahun ini saya nggak banyak masak-memasak. Bantu emak aja. Karena sebagian besar waktu juga berada di rumah orang tua. Menu lebaran tahun 2022 yang saya maksud di sini adalah menu yang ada di rumah kami, menu yang saya nikmati, dan saya temukan dari rumah ke rumah yang saya kunjungi.

Apa saja menunya?

Hari pertama Idulfitri 1443H ini, masjid tempat kami sholat Eid menyediakan nasi uduk. Memang bukan masjid besar, dan sudah jadi kebiasaan di masjid ini menyediakan makanan setelah sholat Eid baik Idulfitri dan Iduladha. Dulu, menu (sarapan) lebaran Idulfitri di masjid ini lebih sering bubur ayam. Enak lho, makannya nggak bikin kenyang-kenyang banget, nantinya bisa isi perut lagi, hehehe.
bubur ayam
sumber : wikipedia
Ok, lanjut.

Setelah itu di rumah orang tua masak ketupat sayur, ayam dan telur masak merah, dan sambal goreng kentang daging. Sudah jauh berbeda dengan waktu saya kecil, yang mana masakan lebarannya kudu dan mesti ada soto Banjar dan martabak kari. Seiring waktu, menu lebaran kami menyesuaikan selera dan sesuka hati saja. 
sumber : wikipedia

Kemudian di rumah saudara sepupu Ibu barulah disediakan martabak kari, dengan bumbu kari Malaysia. Saya perhatikan warna karinya kuning kemerahan, berbeda dengan kari martabak versi asli keluarga kami dari tahun ke tahun. 

Sebelumnya kami mampir ke rumah keluarga lain, yang menyediakan nasi biryani.
biryani
foto : Shourav sheikh

Lanjut, saya bertandang lagi ke rumah sepupu. Di sini mereka menyediakan coto Makassar. Ini adalah satu-satunya jenis soto Nusantara yang nggak mau pakai S, maunya pakai C. 
coto makassar
coto bukan soto. Sumber : wikipedia

Selain coto Makassar, saya juga disuguhi buras atau burasa menurut masyarakat Bugis. Buras sering disebut sebagai pesaing ketupat. Cara makan buras pun ada perbedaan, ada yang disiram dan ada yang dicolek bumbu. Di rumah ini burasnya disajikan dalam dua versi kacang, yakni kuah santan ebi. Mau versi yang mana pun, bagi saya kedua kuah ini cocok buat campuran buras.
nggak sempat foto buras, pinjam Wikipedia dulu ya

Saya berkunjung lagi ke rumah keluarga yang lain, di sana baru saya makan soto Banjar. Sementara saat berkunjung ke rumah keluarga lain disediakan soto Lamongan dan rawon. Sore hari di lebaran hari kedua, kami bersilaturahmi ke rumah kawan. Di sini disediakan ayam kari khas Jawa, sambal goreng kentang, sambal terung, rendang, saya lupa sebagian lagi apa dan ada juga bakso. Sementara di rumah kawan lain saat kami bertandang, barulah menyantap opor dan daging balado.
Setelah itu saya kekenyangan, hahaha.
foto : bawah reserve

Nggak sih. Saya menjadwalkan satu hari untuk istirahat. Baru lanjut kelilingan lagi. Saya lebih banyak ke rumah keluarga. Keluarga juga banyak, ada saudara kandung ortu, sepupu ortu, saudara nenek-kakek, sampai sepupunya nenek.
 
Seingat saya, setelah itu ada beberapa project kondangan, ((project)). Kondangan di saat lebaran, apakah menunya dapat disebut menu lebaran? Sepertinya tidak ya, tetap sebutannya menu kondangan. Eh tapi, banyak juga yang nikah di bulan Syawal ya. Tapi, kok kamu belum ngundang?
Pertanyaan menyebalkan, skip sajalah.

Nah, saya juga mampir ke rumah Acil (bibi/tante/bulik dalam bahasa Banjar). Di rumahnya tersedia soto ayam yang agak berbeda dari soto lainnya, serta pecel. Masih ada beberapa rumah keluarga dan kawan yang saya kunjungi, namun menunya mirip-mirip serupa sehingga tidak perlu dituliskan ulang. Sebelum pandemi, menu lebaran yang saya temukan di kota ini lebih bervariasi, seperti sop konro, dan ada keluarga yang menyediakan soto Madura. Wajar sih, belum ada pembatasan tahun itu. Tahun ini pun, kami membatasi perjalanan. Walau yang saya tulis (kayaknya) banyak banget yang dikunjungi, tetapi sebenarnya masih kalah jauh sebelum pandemi, dan semua yang saya kunjungi masih di kota yang sama. Sampai tulisan ini dibuat, saya belum ada keluar kota. Beda banget dengan lebaran beberapa tahun lalu.

Jadi, berapa macam masakan lebaran yang ada dalam tulisan ini? Dapatkah kalian menghitungnya? Eaaa.
Eh, iya, sebenarnya seru kalau bisa berbagi semua foto masakan yang saya temukan ketika lebaran. Nyatanya nggak sempat ambil gambar dan mau motret makanan di rumah orang, rasanya benar-benar nggak nyaman. Jadi, maaf ya, fotonya hasil minjem

Dulu, ketika paksu berlebaran pertama kali bersama saya, dia agak kebingungan dengan aneka rupa makanan, dan langsung menyerah di timing yang kedua. 
Dia pun bertanya, "Kok kamu sih bisa makan semua itu?"  Hahaha
Tipsnya sederhana kok : jangan makan sepenuh piring, sedikit saja, benar-benar sedikit, makan untuk memuliakan tuan rumah, sedikitkan minuman manis, cukupkan dengan air putih, dan setelahnya jangan pikirkan berat badan :)

Hal yang menyenangkan membicarakan menu lebaran ini adalah banyaknya masakan tradisional yang keluar. Sementara saat Ramadan, penganan tradisional lebih dulu keluar. Saya jadi penasaran, apa saja menu-menu lebaran unik khas negeri ini selain yang tertera di atas ya? Pastinya masih banyak ya kan.

Ngomong-ngomong, sebenarnya masakan yang layak disebut sebagai menu lebaran itu sampai pada hari ke berapa ya? Banyak yang bilang hari pertama dan kedua, ada juga yang bilang hingga tiga sampai lima hari lebaran, masih layak disebut sebagai menu lebaran. 
Bagaimana menurut kalian ?
Menu apa yang kalian punya dan nikmati saat lebaran Idulfitri?

 ***


6 comments:

  1. Aku pertama kali coba soto Banjar, pas udh nikah Ama suami. Bukan Krn mereka orang Banjar, tapi dulu pas masih di Jerman, mama ada temen orang Banjar yang suka bikin menu ini. Eh ternyata suka, trus jadi menu utama di keluarga suami.

    Aku sendiri Krn orang Batak, dan besar di Aceh, jadinya terbiasa Ama menu lebaran lontong dan opor juga kawan2 menunya 😁. Bedanya Ama menu Jawa, di Sumatra lebih berempah , lebih banyak pendamping, dan pedas pastinya . Trus yg lupa, ada tauco nya juga. Msh inget dulu selalu diminta mama utk ngiris setipis mungkin cabe ijo wkwkwkwkwk. Sampe pedih tanganku 🀣🀣.

    Dan mama tipe yg suka eksperimen menu. Kdg2 pas lebaran, males bikin lontong, mama malah bikin sup jagung lengkap Ama garlic bread 😁. Pernah juga Coto Krn dulu mama pernah tinggal di Makasar.

    Setelah nikah, aku jadinya ngikut suami. Dan Krn mereka orang solo, menu lebarannya ketupat opor, tapiiiiii ga oedes samasekali 🀣🀣🀣. Bahkan sampe skr, aku jadinya bawa sambel sendiri kalo udh ke rumah keluarga suami utk makan menu lebarannya hahahahhaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. menunya rameee juga mba. Seneng bacanya, beragam

      Delete
  2. waaahhh ... artikel yang bikin laper ini mba : senang ya bisa silaturahmi dengan kerabat lebaran kali ini.

    ReplyDelete
  3. setiao daerah punya khas masing2 ya. dulu lagi mertua amsiha da aku selalu lebaran di mertua. ada opor, sayur labu , sambal goreng dan semur daging. Kini aku lebaran di ruamh sendiri. secaar aku gak suak amsak akhirnya menunya gado2 ayam khas cirebon (Isinay suwiran ayam, kentang, tahu, toge dan kuah snatan diberi bumbu kacang)

    ReplyDelete
    Replies
    1. asyiknya nih denger gado2 ayam cirebonnya.

      Delete

Hai, bila tidak memiliki link blog, bisa menggunakan link media sosial untuk berkomentar. Terima kasih.