Adegan Misterius di Pesta Pernikahan

gidik » ber.gi.dik
1. a geli
2. a ngeri

Teman saya bercerita kalau warga di tempatnya masih sering bergotong royong membuat panggung sebagai singgasana pengantin saat pesta pernikahan. Kebetulan dia belum lama pindah ke daerah itu, jadi masih senang-senangnya bercerita apa pun yang berbeda dari tempat tinggalnya terdahulu. Cerita selanjutnya sebenarnya miris, tapi cukup 'menggelikan'. Ngeselin juga nyeremin. Bagaimana ya kata yang pas? memprihatinkan gitu deh, Kemudian, saya pun ingat. 

Saya : “Lho waktu aku ke sana, ikut ke kondangan, juga lihat yang begitu.” 
Dia : “masa’ sih? Ini kondangan yang sama?” 
Saya : “gak mungkin, lokasi pernikahannya aja beda.” 
Dia + saya : “kok bisa sama ya kejadiannya.” 

Spontan, kami pun bergidik.

Adegan  yang  Sama  di  Pernikahan  yang  Berbeda 

Kejadiannya sudah lama sekali. Waktu itu masa liburan kuliah (jadi, ini sudah belasan tahun lalu ya) tapi saya nggak mudik ke kampung eh ke Kota Balikpapan. Lebih pilih jalan-jalan ke tempat keluarga di suatu daerah. Keluarga saya ini tinggal di daerah yang sama dengan teman saya ini, tapi mereka berjauhan dan tidak saling kenal lho. Menginap di sana, rekreasi, senang-senang, sampai kenal dengan tetangga sekitar, terus diundang ke pernikahan tetangga. Undangannya langsung dari tetangganya sendiri, karena kalau sekadar diajak keluarga datang ke kondangan saya nggak mau dong, tapi kalau diundang langsung oleh pihak yang punya hajat maka ada anjuran untuk datang.

Seingat saya, ada beberapa ke-khas-an pernikahan di daerah ini tapi bukan tentang adat kesukuannya. Kalau nggak salah, mereka lebih suka ngadain acara pernikahan pas hari kerja agar orang-orang berpotensi bisa makan gratis pas jam istirahat. Atau gimana ya? Saya lupa (tapi maksa nulis). Kemudian, seperti kata teman saya, warganya senang mendirikan panggung untuk acara pernikahan. Ini juga bikin saya angguk-angguk, karena sudah beberapa kali melihat acara pernikahan berpanggung di daerah ini. FYI, saya sangat sukar mengingat orang di kota saya membuat panggung untuk pernikahan, kalau nggak nyewa gedung, nyewa dekorasi pernikahan, ya nebeng jalan raya lah hehehe. Tapi, panggung masih ada untuk acara 17 Agustus-an. 

Jadilah panggung dengan drum-drum bersusun dan papan ditaruh di atasnya. Lumayan besar, di atasnya cukup untuk duduk para pengantin, para wali, electone, dan orang-orang yang numpang foto. Parkir mobil juga cukup kayaknya.

Saya hadir siang, entah pukul berapa, bersama keluarga. Orang antri mengambil makan, lalu duduk memencar menyesuaikan kursi kosong. Saya duduk memerhatikan pengantin yang nampak tegang. Entah karena cuacanya lagi panas, pakaiannya yang bikin gerah, make-up yang tebal, atau memang style pengantin zaman itu mesti bermuka datar begitu saya nggak ngerti. Yang pasti mereka nggak selfie-selfie macam orang zaman now. Yah, gimana dong hape masih monokrom.

Namanya juga pernikahan, ramai dong ya. Lagu dangdut bergema. Saya lupa lagu apa, tapi pelan-pelan saya resapi sepertinya tidak cocok dengan soto yang saya makan. Liriknya lebih pas untuk adegan malam pengantinnya, bukan untuk orang yang masih malu-malu berkasih sambil bergandengan tangan, apalagi untuk saya yang masih jomblo waktu itu. Bukan pula senandung-senandung manjah bak syahreino. Temponya cepat, sampai-sampai goyangan penyanyinya pun asoy geboy lincah aw aw aw dah. Saya sungguh lupa lagu apa. Entah ini penyanyi yang biasa menyanyi di kondangan atau kampanye partai.
ilustrasi semata
Sebenarnya busana penyanyi pun nggak nyambung pula dengan busana para pengantin dan tamu undangan. Sudah menjadi kebiasaan, kalau ada acara khusus, kondangan, dan lainnya di kampung ini, orang-orang akan menggunakan busana tertutup. Perempuannya akan berhijab, meski bukan ciri khas mereka sehari-hari. Pengantinnya pun demikian. Soal ini saya salut lho, soalnya dulu ketika belum berhijab, saya nggak kepikiran menikah dengan busana hijab. Sementara di tempat ini, mulai dari akad nikah sampai resepsi, sudah jadi kebiasaan pengantinnya tuk berhijab. Tapi, ini bukan daerah penerapan syariah ya. Daerah B saja.

Nah, ternyata bukan saya saja – si pendatang- yang punya pikiran demikian, tamu-tamu undangan pun bisik-bisik mengkhawatirkan :  ‘nggak salah pilih electone apa ya?’ ‘lagunya kok gitu, banyak anak-anak kecil yang dengar lho’, ‘ampun, bisa loncat lontong di mangkokku ini kalau yang nyanyi goyangnya begitu terus.’
Tapi, bisik-bisik tetap bisik-bisik semata, tamu undangan tetap makan saja, nggak ada juga nyamperin ke penyanyi, buat rikues lagu apa gitu, atau gantian menyanyi. Semua sibuk masing-masing. Lagipula, seingat saya cuaca cukup panas, pengantin lebih butuh kipas daripada ganti lagu. Saya pun malas memerhatikan lagi, rasanya lebih enak jadi anak SMP, selesai-makan-pulang.

Di sela-sela menikmati hidangan penutup itulah (ceile, air sirop maksudnya) saya melihat adegan yang cukup horor.

Dari bawah kaki si penyanyi muncul sebuah benda kurus, panjang, entah kawat entah lidi entah ranting entahlah.
Bergerak-gerak lalu hilang cepat. 

Ada jeda sesat, lalu muncul dan hilang lagi.
Sungguh misterius. 

Apakah saat penyanyinya berjingkrak, papan pijakan sudah ikut kelelahan? Sampai-sampai serpihan kayunya terlepas? 

Jarak saya memang tidak begitu dekat dengan para penyanyi (lebih dekat dengan konsumsi) tapi, saya yakin itu memang lidi. Posisi saya pun berubah, tadinya fokus ke makanan langsung fokus ke atas panggung. Kebetulan keluarga saya juga belum pulang, jadi saya masih punya kesempatan untuk memelototi hal yang penting nggak penting ini.

Benar! Seiring goyangan penyanyi yang meriah di atas panggung, benda kurus-panjang yang akhirnya saya yakini sebagai lidi, muncul lagi secara vertikal. Bergerak ke atas secara perlahan, terus hilang cepat. 

'Apaan sih ini, saya kok penasaran,' pikir saya waktu itu.

Tidak ada angin, tidak ada hujan (apa hubungannya ama cuaca) muncul lidi-lidi gaib. 
Awalnya cuma satu, lama-lama ada dua tiga lidi muncul di antara kedua kaki penyanyi. 
Ada yang slow motion, naik turun, ada yang bergerak ke kanan-ke kiri, ada lidi yang geraknya random, muter-muter. 


Tapi lidi-lidi ini konsisten, selalu berusaha muncul di antara kedua kaki para penyanyi. Saya lupa berapa jumlah penyanyi di atas panggung ini, rasanya dua atau lebih.

Saya perhatikan sekeliling, kayaknya para tamu undangan asyik-asyik aja ya, nggak ada yang kayak saya. Sungguh mencurigakan para tamu ini. Kok nggak ada bisik-bisik seperti sebelumnya? 
Apa karena saya sudah makan soto, urap, sambal goreng, kue-kue, jadi bisa fokus ke arah lain?

Saya balik melihat ke penyanyi. Ketika mereka jeda untuk mengganti lagu, saya mendengar suara tidak wajar. Bukan suara mamak-mamak yang protes ke anak karena si anak lebih memilih makan kue, sementara si mamak sudah terlanjur membawa semangkuk soto di tangan kanan dan sepiring nasi di tangan kiri, lalu berdendang qasidah : "bingung...bingung ku menghabiskaaaan". (*)

Kalau suara itu sih, wajar saja.

Suara tidak wajar yang saya maksud adalah suara cekikikan samar.
Wwkwkwkwk 
Eh salah, ini suara ngakak dari negara berflower +62 

Maksudnya suara tawa yang tertahan. 
Xixixi 
Hihihi 
Kikikikik 
(Kenapa mesti ditulis sih?) 

Saya tengok lagi kanan kiri saya, kok nggak ada yang antusias kayak saya ya. Reaksi apa kek gitu. Nggak ada yang ngerasa aneh apa ya? Pas balikin muka lagi ke arah panggung, saya perhatikan pengantinnya pun tidak melihat ke arah electone atau penyanyi, mereka menatap kami tamu undangan seperti awal saya lihat, datar saja. (Ini memori saya yang payah, kenapa bayangan pengantinnya kok jadi seram sih)

Nah, baru itu saya melihat seorang bapak berjalan laju ke arah panggung. Rautnya seperti kesal.
Mau apa dia? Naluri saya mengatakan dialah yang akan menguak teka-teki ini.
Bak detektif Share Loc Homes (dari aplikasi whatsapp).

Secepatnya Bapak ini langsung menyibak tirai panggung dari arah samping, dan berteriak “keluar!” 
Para penyanyi kaget! Mereka langsung berhenti menyemir sepatu, ish.. berhenti menyanyi. 
Sebagian tamu undangan juga beralih pandangan.

Selanjutnya, dari bawah panggung keluar anak-anak kecil (cowok dan cewek) sambil memegang lidi. Ya ampun, saya geleng-geleng kepala sendirian. Mau gelengin kepala orang sebelah, nggak boleh dong ya. Saya nggak menyangka ada anak-anak di bawah sana. Rupanya suara cekikikan samar itu berasal dari bawah panggung.
Emak-emak yang melihat anaknya ikut andil di bawah panggung, langsung menarik si anak. Anak-anak ini langsung kena disiplin, dinasihati. Saya nggak ingat apakah ada anak yang kena hukuman di tempat. Seingat saya, para penyanyi diminta turun panggung untuk menyanyi di bawah saja, kemudian lagunya juga diganti, jangan lagi lirik-lirik nakal. Syukurnya mereka mau menyesuaikan. 

Saya pun lanjut pulang. Ketika kumpul bareng keluarga, ternyata ada juga yang membahasnya, bahkan ada yang mengaku mau menyumbangkan lagu, tapi batal karena nggak enak, plus nggak ditawari pula. Saya jadi kasihan dengan si empunya acara, orang-orang sekitar jadi ramai membahasnya. 

Cerita pun berakhir di sini. 

Waktu  Pun  Berlalu

Baru kemudian ketika bertemu dengan seorang teman kost, dia pun menceritakan kisah “lidi-lidi gaib” persis dengan kejadian di kondangan yang saya datangi.

Saya lupa, jarak antara kejadian pernikahan yang saya datangi dan cerita teman ini berapa lama. Karena ceritanya sama, wilayahnya sama, tapi pengantin dan lokasi pernikahannya beda, makanya kami bergidik. Artinya anak-anak dalam cerita saya dan cerita teman ini bisa melakukan hal yang sama nggak baiknya, padahal nggak janjian. 

Apa pula yang anak-anak itu pikirkan saat masuk di bawah panggung sambil bawa-bawa lidi ya? sungguh gemes

Nah, pesan moral dari cerita ini apa ya? 

Kalau saya pesan air siropnya diperbanyak, supaya kalau saya bingung bisa pegangan ama gelas sirop.
Duh.. nggak nyambung.


***
Salam,
Lidha Maul


------------------------------
(*) lirik asli : bingung-bingung ku memikirnya, berasal dari lagu qasidah terlaris "Perdamaian" yang dinyanyikan oleh grup Nasyida Ria yang kemudian dipopulerkan lagi oleh Grup GIGI tahun 2004.
------------------------------