AVENGERS INFINITY WAR : AKHIR YANG CUKUP BERANI MERUSAK SELERA PENONTON


Directors :Anthony Russo, Joe Russo
Cast : Banyak


Film dibuka ujug-ujug dengan situasi serangan Thanos (villain) dan anak buahnya kepada orang-orang Asgaard. Thor dan Loki diambang kematian. Tapi, bukan pejuang Asgaard namanya kalau belum sampai titik darah penghabisan. Perlawanan pun dimulai, tepat ketika Loki menyebut :”Kami punya..... Hulk.” Dan Hulk muncul menyerang membabi buta, seperti biasa. 

Lewat adegan pembuka ini Thanos menjelaskan apa yang diinginkannya dan tujuannya.

Thanos berencana mengumpulkan 6 batu infinity yang akan ditaruh di sarung tangannya : 
  1. Power stone ( Pernah muncul di : Guardians of The Galaxy ) 
  2. Mind Stone ( Milik Vision), 
  3. Reality Stone (Pernah muncul Thor : The Dark World) 
  4. Space Stone ( Pernah muncul di : Avengers, Thor : Ragnarok)
  5. Time Stone (Milik Dr. Strange) 
  6. Soul Stone (Belum muncul di MCU mana pun)---- semua bersumber dari artikel, bukan pengamatan pribadi
Batu-batu ini akan mengabulkan segala keinginan Thanos, semudah menjentikkan jari. Sayangnya, batu-batu ini tidak terkumpul di satu penjual batu akik semata, melainkan tersebar di alam semesta, termasuk di bumi. Penonton juga diajak mengenal karakter Thanos, kalau dia punya tujuan dia akan memastikan tujuannya tercapai sempurna. Thanos adalah sosok yang dingin (kalau panas, namanya Thermos)

Setelah perkelahian sengit dan dimenangkan Thanos, Hulk terbuang – terbang melayang – dan gedebuk di tempat Dr. Strange. Jadi, tadinya Hulk ada di luar angkasa sana, terus nembus bumi dan akhirnya berubah menjadi Bruce Banner.

Thanos dan para abdinya tidak menyia-nyiakan waktu, mereka pun OTW ke bumi dengan pesawat luar angkasa yang berbentuk donat. Tujuannya adalah Dr. Strange yang memiliki kalung Time Infinity berwarna hijau.

Tony Stark pun muncul. Tidak kalah menarik, dedek Peter Parker yang tadinya sedang berkaryawisata dengan rombongan bus bersiap membantu Tony Stark, hanya karena bulu kuduknya merinding sensitif melihat spaceship donat.

Bertiga mereka (Tony, Peter Parker, Dr.Strange) mengejar hingga ke Titan (pokoknya di luar angkasa sana gitu lah)

Sementara itu, Thor yang sudah kehilangan mata sebelah – yang nyaris mati – ternyata tidak jadi mati. Dia nyangkut di sebuah pesawat yang berisi Starlord dan tim. Thanos pun menjadi pembahasan. Kemudian Thor memisahkan diri ke suatu tempat bernama teeeeeeet..............lupa.... oke Nidavellir, tempat tinggalnya para kurcaci yang besarnya melebihi dirinya. Di tempat ini Thor berniat untuk membuat palu-nya yang sebelumnya hancur.

Selain Dr. Strange, batu infinity juga dimiliki Vision. So, sudah pasti Vision dan Wanda pun tak luput dari pengejaran. Captain America dan Black Widow pun datang menolong. Hingga membawa mereka semuanya ke negeri Wakanda. Termasuk juga Thor. Di sinilah pertempuran besar-besaran melawan anak buah Thanos berlangsung. Thanos yang tadinya melawan Iron man, spiderman, Dr. Strange, Starlord, Mantis dan Drax di atas sono, akhirnya turun ke bumi menyelesaikan misinya.


Sudut Pandang  :

Dari Malas Nonton Sampai Berdecak Suka

Film Avengers : Infinity War adalah film yang saya males banget buat nonton. Nonton yang ini, nggak bisa kalau nggak nonton yang itu. Berantai. Sama seperti saya males banget nonton Drakor. Karena ketika nonton Infinity Wars ini, saya nggak ngerti Thor: Ragnarok, saya nggak tahu Black Panther. Bahkan, saya juga nggak ngerti kenapa Chris Pratt nongol di situ. Baru saya tahu, ternyata mereka tim Guardian of The Galaxy. Yes, saya juga nggak nonton.

Eh, ntah gimana pada akhirnya nonton juga ni film Avengers : Infinity War

Dan surprise sama ceritanya. 

Jadi, saat di luar sana sudah bocorin spoiler dan bilang endingnya nggak banget, kesel, kecewa, saya justru sebaliknya. Iya, spoiler nggak masalah buat saya, karena saya sudah bukan anak muda baperan lagi. Yang nonton film bukan cuma cari hiburan, atau ending yang membahagiakan.

Btw, saya memang lebih milih Avengers daripada Justice League. 

Sebenarnya film ini cukup diberi judul : THANOS. Cukup Thanos aja. Karena dari awal hingga akhir ya dia fokus utamanya. Karena di film ini pun mengulas kehidupannya. Sebagai penonton, saya diajak melihat sisi villain (karakter jahat) yang juga punya sisi humanis. Kalau om Hercule Poirot bilang, semua kejahatan selalu punya motif, motif, dan apa motifnya. Jadi, motif dan motivasi Thanos mengejar batu akik Infinity pun diceritakan dalam film. Tapi, tentu tidak ada Hercule Poirot dalam film ini, yang ada malah dua Sherlock Holmes.

Saya juga suka porsi semua superhero di film ini. Semua layak jadi superhero, layak jadi pemimpin masing-masing. Porsinya pas, berimbang. 

Humornya juga lebih banyak di film ini. Untuk sementara favorit saya tim Guardian of The Galaxy. Mereka lucu-lucu. Special effectnya nggak usah ditanya deh. Kostum Iron man sudah pakai nano teknologi, nggak datang kayak biasanya lagi. Sudah bisa zwep-zwep-zing sudah nyebar sendiri, nyusun sendiri kayak cairan. Dan om Tony ini rajin banget, sampai buatkan Peter Parker kostum yang cakep juga. Dannn.... Spiderman pun sudah disahkan menjadi bagian Avengers oleh Tony Stark.


Thanos dan Daerah Abu-abu

Sebenarnya tidak ada yang aneh bagi saya tentang Thanos dan idenya : ingin menguasai alam semesta, membasmi pihak-pihak yang menentangnya, menjaga keseimbangannya dengan cara genosida, kok sepertinya bukan hal baru ya buat saya? Mungkin yang cukup berbeda adalah, cara mengambil sudut pandang tentang Thanos yang tidak 100% ‘hitam’. As an evil person, Thanos punya sisi putih: ayah yang baik, menerapkan kejujuran, bahkan punya cinta. Bahkan di akhir kisah, kita akan diperlihatkan Thanos yang sedang merenung. Penjahat merenung ?

Dalam jurnal psikologi, manusia yang terkenal dan dikenal jahat sekalipun punya sisi putih. Tindakan berbuat jahat lebih sering dilakukan karena keyakinan bahwa tindakan itu adalah sesuatu yang benar.

Pola pikir Thanos pun demikian, tidak bisa diganggu gugat lagi. Bahkan, di film ini betul-betul diperlihatkan Thanos akan melakukan apa saja. Sekali APA SAJA demi tujuannya. Dan itu yang bikin saya salut dengan film ini. Para pembuat film Avengers : Infinity War ini cukup berani merusak selera penonton.


Endingnya Mangap, Gede Banget
Menurut saya nih, film dengan open-ended kayaknya sudah biasa ya ? Sepehamanan saya, genre horor sering begini.

Pernah juga ada film entah judulnya apa (lupa) dimana adegan akhirnya, si jagoan memegang senjata, lalu muncul suara-suara kemudian dia pun bertanya : “NOW WHAT?” (yaaa kagak tahu lah kita, tahu-tahu the end aja) atau seperti ending film : A Quiet Place.




Tapi, film-film ini sebenarnya ingin mengajak penonton untuk mikir (alih-alih cuma sekadar terhibur) dan  mau bilang ke penonton : Jagoan Pasti Menang.

Nah, di film Avengers : Infinity War ini ditutup dengan cara yang berbeda. Shocking-ending. Nggantung alias susah banget untuk menyimpulkan. Masing-masing penonton jadi punya persepsi sendiri-sendiri. Mau kemana.. dibawa kemana...yaa.



Marketing dan Puzzle Avengers

Ketika saya di sebuah event yang kebetulan banyak dihadiri anak muda, narasumbernya bertanya: “Gimana, sudah pada nonton Avengers : Infinity War ?” dannn suara SUDAH pun bergema.

“Masih baper ?” tanya narsum lagi. Lalu, teriakan ‘masih..., nggak rela, sedih’ bergema lebih keras lagi.

Ow, ow, ow... pada nggak rela ya? Kalau menurut saya ‘nggak rela’ itu bisa jadi makanan empuk para pebisnis film. Karena kalau nggak rela, berarti mesti direlain di Part selanjutnya.

Karena katanya, kisah Infinity War ini berlanjut di Avengers part 4 tahun 2019.

Eit, tapi sebentar. Masih di tahun 2018, nanti akan ada film The Ant-Man and The Wasp. Nama The Ant-Man ini disebut-sebut dalam Infinity War, tapi sosoknya nggak ada sama sekali. Film ini pun sudah membuat bertanya-tanya, apakah nanti berkaitan dengan Thanos atau nggak? Kenapa dia nggak muncul di Infinity War ?

Ya, saya nggak tahu juga. 
Yang pasti sih sampai sekarang, yang namanya “Curious” alias penasaran selalu menjadi trik marketing yang terbaik.

Satu lagi, meskipun kita nggak suka akhir yang menyedihkan, tapi sad-ending selalu punya tempat berkesan dan terkenang di hati.



SPOILER............ Particle Dispersion Effect


 “Mr. Stark, I don’t feel so good.”
Begitulah kata Peter Parker kepada Tony Stark. Kemudian terjadilah seperti gambar berikut ini :





Sekian.


Salam,
Lidha Maul
==============


Ulasan ini bersifat pribadi dan tidak ditujukan sebagai ajakan menonton.
Mau nonton atau nggak, pilihan masing-masing saja.

7 comments:

  1. Greetings! This is my first comment here so I just wanted to give a quick shout out and tell you I
    truly enjoy reading through your articles. Can you
    suggest any other blogs/websites/forums that cover the same topics?
    Many thanks!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thankyou.
      But, "I truly enjoy reading through your articles" emang ngerti saya nulis apa ?

      Delete
  2. So far karena bukan genre SU aku malah belum lihat film ini mbak 😂 Penasaran sebenarnya, tapi ya sikon ga memungkinkan buat nonton film ini jadi ya mungkin nunggu filmnya keluar di TV aja meski udah gatel penasaran 😂😅

    ReplyDelete
  3. Saya biasanya kalau nonton film kayak gini (((KAYAK GINI))) cuma buat nemenin suami. Pas di dalam bioskop ketawa-ketawa aja kalau lucu. Tapi udah di luar, suka enggak ngeh ceritanya tentang apaan. Hehehe... untuk film ini berhubung saya pas mudik, jadi suami nonton sendiri :D

    ReplyDelete
  4. Galfok sama Thanos pake batik.... Ini film emang rame banget ya mbak udah banyak yang ngantri, pengen sebenarnya nonton film tapi bocil nggak memungkinkan untuk ditinggal, nunggu tayang di tipi aja kali ya....

    ReplyDelete
  5. Iya.. endingnya mengecewakan. Padahal berniat mau nonton 2x

    yuniarts[dot]com

    ReplyDelete
  6. Serius aku ga sabar mau nonton lanjutannya. Sakit ati sih liat ending, dan aku sampe ngebayangin alur cerita sendiri buat lanjutannya mba, yg ptg jagoanku yg mati bisa muncul lagi hahahahah

    ReplyDelete

Hai, bila tidak memiliki link blog, bisa menggunakan link media sosial untuk berkomentar. Terima kasih ^_^