Begini Rasanya Bikin Novel: Hana Sekolah Terakhir

 

novel perdana Hana Sekolah Terakhir

Almh. Mbak Tri Wahyuni Zuhri beberapa kali menyapa saya lewat jejaring facebook kala itu. Kami belum pernah bertemu sekali pun (bahkan hingga beliau berpulang). Padahal jarak antar kota kami sekitar 3 jam saja. Setiap kali bertegur sapa, beliau menyempatkan untuk menyemangati. "Ayo, Mbak, semangat menulisnya. Bagus, kok, tulisannya." Setiap kali juga saya akan jawab. "Enggak pede, Mbak."

Saya masih nulis receh di wordpress gratisan kala itu. Saat itu, menulis ya menulis saja, belum ada beban, tanpa ketergantungan, tak perlu memaksakan diri. Tulisan-tulisannya mengalir dari antah berantah sisi otak entah bagian yang mana. Enggak perlu banyak mikir, justru ingin mengeluarkan beban pikiran. Namun, apa yang disampaikan Mbak Tri terbawa pikiran juga. Beli domain, deh. Ikut kelas para suhu blogger, deh. Ikut lomba juga, deh. Eh, berkelanjutan, deh. 

Mbak Tri bukan hanya narablog, beliau juga penulis buku fiksi-nonfiksi. Jadi motivasinya pada saya bukan hanya fokus nge-blog, tapi berkembang. 

Setelah punya blog, bertambah teman yang menyemangati. "Ayo, bikin buku."

Menariknya lagi, banyak bloger yang juga penulis buku dan cerpenis. 

Oke, saya coba, tapi cukup antologi saja. Menulis keroyokan itu enggak malu-maluin. Ada yang memimpin di depan, dan saya bisa mengekor semata. Maksudnya, biasanya nih, ada satu nama penulis yang ditaruh pada sampul depan buku antologi, dan penulis lain mencukupkan diri melihat namanya tertera di daftar isi. 

Sekian waktu, lumayan juga jumlah antologi saya. Baru-baru ini (2025), saya memiliki antologi yang memuat nama Lidha Maul pada sampul depannya.

"Ayo, Lid, masa antologi terus. Bikin buku solo, lah. Pasti bisa, kan."

Begitulah ucapan beberapa teman, seiring waktu.

Memang benar. Kalau lagi ada ide cerita, akan lebih melegakan jika bisa segera dituangkan. Saya punya naskah novel fantasi yang saya taruh di platform baca digital. Enggak laku sih :D tapi semua itu berguna untuk melatih rasa cemas, tidak percaya diri, serta mengantisipasi rasa kecewa yang kelak tumbuh, 'kenapa enggak dari dulu aku melakukannya ya?' Karena itulah penting untuk mencobanya saja.

Ternyata, semengalir-mengalirnya ide cerita (apa tuh semengalir...) tetap saja bertemu tembok keberlangsungan cerita. Biasanya, ini terjadi di pertengahan atau menuju penutupan. Kerap kali, polanya, saya tidak akan melanjutkan, dan memilih beralih ke ide-ide baru. Memberi ritme jeda pada tulisan-tulisan pampat justru membantunya untuk bernapas dulu sampai terbentuk inspirasi baru.

Dari sinilah, novel Hana: Sekolah Terakhir lahir. 

Eh, salah ding.

Sebenarnya semua ide cerita yang saya punya tidak semua serta merta tergarap pada masa yang sama. Kadang ide-ide ini ditaruh dulu sebagai draf. Nanti (baca: bertahun-tahun kemudian... hahaha) baru dilanjutkan. Begitu pun novel Hana: Sekolah Terakhir (HST), yang idenya muncul 2021, lalu digarap serius 2024-2025. Novel dengan genre drama, yang dari ide awal, alur cerita, konflik, sampai solusi dan penutupnya sudah terjalin di kepala. Saya memulainya dengan keyakinan: Pasti bisa selesai dalam beberapa bulan! Iyess! Yakin banget!

Ternyata memang benar bisa selesai di tahun 2025, tapi keyakinan saya tidak sepenuhnya benar. Ternyata, garap novel itu syusah syekali

Beberapa kali terhenti karena merasa frasa-frasa yang ada tidak ada rasanya, terlalu datar, tidak menumbuhkan penasaran. Mandek lantaran konflik yang saya rajut kurang runcing, sehingga ikhtiar penyelesaiannya pun terasa hambar. Segala teori bahwasanya menggarap novel dengan genre drama akan lebih mudah dari genre lain, ternyata tidak begitu.

Stagnasi menulis juga terjadi karena beban pikiran sendiri: Sebenarnya apa tujuanku menulis ini? Bagaimana kalau novel ini tidak berguna? Tapi sebenarnya aku butuh enggak sih, nulis yang  berguna? Kenapa harus banget memikirkan manfaat dan hikmah cerita, memang enggak cukup nulis ya nulis aja, mumpung ada ide, loh. Nanti kalau enggak ada yang suka gimana? Nanti kalau ada yang kritik? Waduh, setting-nya di kota sendiri lagi, kenapa enggak bikin di kota yang enggak ada aja? Kalau enggak ada yang suka gimana? Duh, kenapa harus mikir orang pada suka sih? Bagian yang ini sesuai nalar enggak sih? Aduh, risetnya kurang nih...

Aw, banyak deh. Menuju pertengahan hingga akhir cerita, kepala saya sakit. Definisi sakit yang nyeri, begitu, bukan sekadar pusing. Saya juga mengalami kekosongan rasa dan cemas. Padahal, apa sih, ni novel viral juga belum. Lemah banget ya. Berulang kali mesti melontarkan kalimat ke diri sendiri sebagai antidot.

Tak jarang, melihat mereka yang bisa menulis buku lebih dari satu, entah dua atau lebih dari itu, dalam setahun, membuat saya kagum. Kok bisa, ya? Ternyata pikiran-pikiran saya yang terlalu berisik, bisa menghalangi niat dan usaha.

Ketika pada akhirnya, novel Hana: Sekolah Terakhir selesai, tetap saja saya merasa banyak kekurangan dalam penulisan. Namun, saya ingat ucapan seorang sastrawan.

"Tidak ada buku yang sempurna. Kalau menunggu sempurna, maka kau tidak menulis buku. Karena sejak awal kau saja tidak sempurna."


Singkat Saja: Wawancara dengan Hana


BTS Tipis-tipis dan Cerita dalam Novel: Hana Sekolah Terakhir

Hana Sekolah Terakhir

Saya tidak bisa sendirian dalam melahirkan novel ini. Ada mbak Fitri Gita, teman penulis Balikpapan, yang bertindak sebagai editor, pembaca pertama, sekaligus membantu saya melihat sudut pandang yang berbeda. Dari mbak Fitri, saya baru tahu kalau menuliskan lirik lagu di dalam buku dapat menimbulkan masalah hak cipta. Sementara pada naskah awal saya mengutip lirik lagu terkenal, di mana sesuai isi ceritanya terdapat adegan sekelompok orang bernyanyi. Masalahnya, kalau dihapus, keseruan adegannya jadi hilang, dan keterhubungan antar adegan lain menjadi buyar. Bisa-bisa, saya harus merombak potongan cerita lainnya juga. Solusinya? mau tidak mau, lebih baik saya buatkan lirik lagu yang sesuai adegan tersebut saja. Biarlah, pembaca berkreasi dengan nada masing-masing.

Kalau dipikir-pikir, saya cukup banyak bandelnya. Pada beberapa dialog, saya menulis teriakan dengan huruf vokal yang banyak, misal: "Awaaaas!". Ini dianggap berlebihan dan tidak tepat. Atau di bagian lain, saya menulis 'dan' sebagai pembuka kalimat. Sebenarnya saya memiliki argumen sendiri, tetapi saya juga ingin berdalih bahwa para sastrawan pun melakukannya dalam fiksi-fiksi mereka, hehehe. 

Proses penyuntingan dari pihak lain membuka pikiran bahwa adanya editor sebagai rekan diskusi sekaligus pembaca pertama adalah hal yang membuat saya terbantu sekaligus berkesimpulan bahwa menulis di blog memang terasa lebih nyaman :)


Bercerita Tentang Apa Novel Ini?

Novel dengan genre drama ini bercerita tentang: 
perempuan muda yang baru saja keluar dari perusahaan yang ia nilai toksik, lalu kembali ke kotanya atas permintaan Ibuk. Berbekal keyakinan atas doa-doanya, tibalah ia di sebuah tempat bernama SMA Nattimura. Sebuah sekolah yang belum pernah ia dengar, belum pernah ia kenal. Sekolah kecil dengan murid dan jumlah kelas yang tidak banyak, serta gaji guru yang sangat jauh berbeda dari perusahaan tempat ia bekerja dahulu. Berbekal pengalaman mengajar di lembaga nonformal dan les privat, Hana mau saja menguatkan tekad untuk serius mengajar. 

Saat Hana mengatur cara agar menemukan kenyamanan dalam mengajar yang penuh tekanan, Ibuk menyusun siasat agar putrinya menyetujui niatnya, yakni perjodohan untuk Hana.

Genre                    : Drama, slice of life.
Tebal                     : 270 halaman
Penerbit                 : Githa Cahya Media Aksara
Cetakan pertama   : September 2025


Cocok Untuk?

Pada akhirnya, saya menulis Hana, Sekolah Terakhir bukan untuk memukau pembaca lewat kejadian-kejadian besar, twist mengejutkan, atau konflik yang meledak-ledak. Saya ingin menawarkan pengalaman yang lebih sunyi, tapi cukup dalam. Karena saya percaya, sebagian besar dari hidup kita tidak terjadi di panggung-panggung besar. Kita seringkali berada dalam ruang-ruang kecil yang tenang. Dalam cerita ini, ruang hidup itu bernama ruang kelas, ruang guru, jalan pulang, dan bahkan dalam pikiran kita sendiri.

kutipan HST
quote favorit

Novel ini bercerita tentang orang-orang biasa. Namun, juga nampak kehidupan mereka yang terpinggirkan, sekaligus tetap ada secuil kemewahan tersirat. Novel ini ingin menunjukkan bahwa bukan hanya murid butuh bertumbuh, guru pun demikian, menegaskan bahwa pendidikan adalah proses dua arah. Di dalamnya ada kelembutan, sekaligus kekacauan, humor, absurditas, dan bahwasanya keheningan juga bisa menyentuh. Saya berharap HST setidaknya bisa menjadi ruang renung bagi siapa saja yang membaca.

Buku ini cocok untuk mereka yang berjuang dengan pekerjaannya. Mereka yang mengajar dan ingin mengajar. Perempuan pekerja. Perempuan muda yang angka usianya sering dibahas. Perempuan muda dan hubungan mereka dengan Ibu-ibu mereka.
Para orang tua dengan anak-anak mereka. Mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan. Mereka yang bergelut dalam konflik keluarga. Mereka yang mencintai pekerjaan. Mereka yang senang menghadapi hal-hal baru. Mereka yang ingat sekolah. Mereka yang masih (sampai hari ini) mengenang masa-masa sekolah. Mereka yang senang membaca, dan siapa pun yang telah mencapai usia membaca novel ini.

Diperkenalkan dalam Acara Bebukuan

Bebukuan (Bedah Buku Perpustakaan BI Balikpapan)

Novel ini memasuki cetak perdananya pada September 2025, oleh penerbit Githa Cahya Media Aksara. Kemudian diperkenalkan lewat acara BEBUKUAN (Bedah Buku Perpustakaan BI Balikpapan) oleh Perpustakaan Bank Indonesia Balikpapan bersama BWF (Balikpapan Writers Festival).

Ternyata bisa menyelesaikan draf tulisan itu sangat melegakan. Terlepas apa pun yang menjadi hasilnya, selagi kendala-kendala tersebut bisa direntas dengan cara yang baik.

Tetap harus bersyukur. Alhamdulillah.


Pesan Hana Sekolah Terakhir di Sini!

Bagi teman-teman yang ingin berinvestasi pada novel Hana: Sekolah Terakhir, bisa pesan di:

Harga: Rp 115.000,00, Tapi....

Terdapat dua promo yang bisa dipakai teman-teman saat pembelian. 

1) Pilih kode promo yang diinginkan

2) Masukkan KODE PROMO pada kolom 'Promo' sebelum melakukan pembayaran.

3) Promo terbatas ya kakak-kakak semua, dan bisa berubah sesuai persediaan yang ada.

Klik : PESAN BUKU HANA SEKOLAH TERAKHIR

🌸 PROMO SPESIAL 🌸

Novel: "Hana Sekolah Terakhir"

Rp 85.000
🚚 FREE ONGKIR
Jawa • Kalimantan • Sumatera
Kode Promo
HANAXELEMDE85
💙 PROMO SPESIAL 💙

Novel: "Hana Sekolah Terakhir"

Rp 80.000
(Belum termasuk ongkir)
Kode Promo
HANAXELEMDE80

0 Comments